Prediksi Market – ‘Saham China Ketinggalan Kereta’

Prediksi Market – ‘Saham China Ketinggalan Kereta’

Prediksi Market – Kalau sebagian besar bursa saham dunia sedang menikmati fase penguatan awal tahun, tidak demikian halnya dengan pasar ekuitas China. Dinamika ekonomi dan kebijakan membuat saham-saham China tertinggal dibandingkan aset ekuitas di negara-negara lain.

Indeks gabungan Shanghai hanya mampu mendulang kenaikan 2,5% sepanjang tahun ini. Indeks bahkan sempat kehilangan banyak poin di bulan Januari dan Februari akibat minimnya sentimen pendorong, baik dari aspek moneter maupun fundamental emiten. Kondisi itu berpengaruh terhadap saham-saham yang diperdagangkan di Hong Kong sehingga indeks Hang Seng dipaksa merugi sebanyak 1,4% di tiga bulan pertama 2013.

Jika ditilik secara sektoral, saham-saham properti, konstruksi dan pengembang merupakan aset yang paling menderita akibat kekhawatiran di pasar finansial. Tingginya harga hunian menjadi alasan banyak investor untuk memperhitungkan potensi pengetatan dari pemerintah pusat. Mengingat Beijing berkepentingan meminimalisasi risiko gelembung di sektor perumahan. Hal ini membuat prospek bisnis perusahaan-perusahaan terkait menjadi negatif dan menyeret harga sahamnya ke level yang lebih rendah. Di saat yang sama, rangkaian data ekonomi belum memperlihatkan kemajuan signifikan sehingga banyak pengamat masih skeptis dengan efektivitas kebijakan pemerintah. Kondisi bisnis dan kinerja ekonomi China di tahun 2013 hampir dipastikan tidak bisa menyamai catatan fundamental di 2010 dan 2011.

Penurunan yang dialami oleh indeks saham China memang bukan malapetaka. Namun fenomena ini patut dicermati mengingat bursa saham di negara lain justru tengah menapaki kejayaan masa pra-krisis 2007. Dow Jones telah meraup 11% hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini, sementara Nikkei meroket 21% sejak fase pelemahan kurs Yen dimulai. Walaupun kondisi ekonominya carut marut, pasar saham Eropa bahkan masih mampu mencetak kenaikan yang lebih besar dibandingkan indeks China. Padahal krisis Siprus dan kisruh politik Italia terus membayangi minat berisiko di wilayah itu. Kalau begitu, apa yang sesungguhnya terjadi dengan bursa saham China?

“Penurunan kinerja dua indeks (Shanghai dan Hang Seng) dipicu oleh negatifnya prospek kebijakan pemerintah dan instabilitas rapor ekonomi,” ujar Qinwei Wang, Analis Capital Economics. Adapun kebijakan yang paling menghantui trend investasi adalah aturan soal transaksi keuangan dan properti. Regulasi terbaru yang dirilis oleh pemerintah bulan Maret ini adalah kenaikan pajak bagi pemilik rumah yang diuntungkan dari penjualan aset propertinya. Tidak hanya itu, suku bunga dan uang muka lebih besar juga dibebankan bagi mereka yang membeli rumah ke-dua di kota-kota besar. Peraturan seperti ini sukses meredam potensi gelembung pasar perumahan, namun di sisi lain juga menurunkan kinerja bisnis perusahaan terkait. Indeks properti Shanghai Stock Exchange memperlihatkan adanya penurunan harga saham sektoral sebanyak 9,4% dibandingkan tahun lalu.

Beralih ke fundamental nasional, performa ekonomi China sebenarnya tidak bisa dibilang jelek dengan rasio pertumbuhan di level 7-8%. Namun rata-rata itu jauh di bawah level pertumbuhan pra-resesi yang mencapai lebih dari 10%. Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi belum terlalu kuat, terutama jika mengacu pada indikator inflasi yang menjulang tinggi. Tidak heran jika untuk sementara waktu, pasar saham China melemah dan ketinggalan kereta penguatan global. Adalah tugas pemerintah pusat untuk menciptakan kebijakan pro-rakyat tanpa harus mengorbankan pelaku bisnis, khususnya di sektor properti dan infrastruktur. Apabila keseimbangan tersebut bisa dicapai, indeks Shanghai baru mulai bisa menyusul rally indeks-indeks regional.

(dim)

(MN)
{Bali Online Trading}

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>